INFORMASI

Kami informasikan untuk warga Lendah. Galur dan Panjatan kami melayani fotocopy print cetak stiker cetak foto laminating Cetak kartu kiss BPJS kartu nikah dan lain-lain berbahan pvc . press dan jilid.

Alamat : RT28, RW 13, JOGAHAN, BUMIREJO LENDAH KULON PROGO. WA : 0895 3917 46872 (KAMI TIDAK MENGGUNAKAN NOMER LAIN SELAIN YANG TERCANTUM DI WEB INI)

Alamat : https://www.print-atk.my.id
Alamat : RT28, RW 13, JOGAHAN, BUMIREJO LENDAH KULON PROGO. WA : 0895 3917 46872

Dongeng Anak: Kisah Semut Cerdik dan Buaya yang Tamak (Plus Link Download PDF Siap Print!)

Dongeng Anak: Kisah Semut Cerdik dan Buaya yang Tamak (Plus Link Download PDF Siap Print!)

Halo Sobat Print-ATK! Mengajak anak membaca adalah cara terbaik untuk melatih fokus dan imajinasi mereka. Agar si kecil tidak melulu menatap layar gadget, membacakan dongeng dari lembaran kertas hasil cetakan sendiri tentu jauh lebih berkesan.

Kali ini, kami bagikan cerita fabel populer tentang Semut dan Buaya. Cerita ini sangat bagus untuk diajarkan kepada anak-anak tentang pentingnya kecerdikan dalam menghadapi masalah besar


Kisah Semut Cerdik dan Buaya yang Tamak


Di pinggir sebuah hutan yang lebat, mengalirlah sebuah sungai yang sangat jajar dan dalam. Di sungai itu, hiduplah seekor buaya raksasa yang terkenal kejam dan selalu lapar. Badannya sangat besar, matanya tajam, dan giginya runcing-runcing menakutkan. Hampir semua hewan hutan takut untuk mendekati sungai, apalagi saat buaya itu sedang berjemur.

Di seberang sungai itu, terlihat sebuah padang rumput yang hijau dan subur. Di sana juga banyak pohon buah yang sedang berbuah lebat. Pemandangan itu sangat menggoda bagi hewan-hewan kecil yang kelaparan.

Tak jauh dari sarang buaya, di bawah akar sebuah pohon tua yang rindang, hiduplah sebuah koloni semut yang rajin. Di antaranya ada seekor semut muda bernama Kancil (seperti namanya, dia sangat cerdik). Kancil sudah lama mengincar buah-buahan di seberang sungai. Namun, dia selalu dihentikan oleh fakta bahwa dia adalah semut kecil, dan sungai itu sangat luas dengan buaya yang mengancam.

Suatu hari, persediaan makanan semut di sarang mereka mulai menipis. Kancil tahu dia harus melakukan sesuatu. Dia melihat rekan-rekannya yang mulai lemas karena kelaparan. Akhirnya, sebuah ide gila muncul di benaknya.

"Kita harus ke seberang," gumam Kancil pada dirinya sendiri.

Dia tahu dia tidak bisa berenang melawan arus yang kuat dan melewati buaya itu. Namun, dia melihat seekor buaya yang sedang tertidur di tepi sungai dengan mulut yang setengah terbuka. Itu adalah Buaya, sang penguasa sungai.

Dengan hati-hati, Kancil mendekati buaya itu. Dia sangat kecil, jauh lebih kecil dari ukuran gigi buaya terkecil sekali pun. Dengan lincah, dia memanjat ekor buaya, merayap ke punggungnya, lalu melompat ke moncongnya.

"Buaya! Buaya bangun!" teriak Kancil di depan lubang hidung buaya.

Buaya itu tersentak dan membuka matanya. Dia melihat ke sekeliling, tapi tidak menemukan apa pun. Lalu dia melihat ke bawah dan melihat seekor semut kecil berdiri di hidungnya.

"Siapa yang berani membangunkan tidurku?" tanya buaya dengan suara menggelegar, sangat jengkel. Dia ingin langsung menelan semut itu, tapi Kancil terlalu kecil untuk menjadi sarapan. "Ah, hanya seekor semut kecil? Apa maumu? Kau tidak akan membuatku kenyang."

Kancil tidak takut. Dia tahu dia harus berakting.

"Tentu saja, aku bukan makananmu, Buaya Besar," kata Kancil dengan nada percaya diri, "Tapi aku datang sebagai utusan dari Raja Hutan, sang Singa. Beliau mengirimku untuk menyampaikan berita penting."

Buaya itu tertarik. "Raja Hutan? Berita apa yang dia bawa?"

"Beliau sangat terkesan dengan keperkasaanmu dan kebesaran sungai ini," kata Kancil, memuji buaya agar dia senang. "Beliau akan mengadakan pesta besar di seberang sana besok malam. Raja ingin mengundangmu dan seluruh teman-teman buayamu sebagai tamu kehormatan."

"Sebuah pesta? Dan dia mengundangku?" tanya Buaya, sangat bangga. "Tapi, kenapa aku harus percaya padamu?"

"Itulah masalahnya," kata Kancil, terlihat sedih. "Aku harus memverifikasi berapa banyak buaya yang tinggal di sungai ini agar Raja bisa menyiapkan makanan yang cukup. Beliau bilang hidangannya sangat banyak, terutama daging rusa segar yang lezat."

Mendengar kata "daging rusa", buaya langsung terbayang kelezatannya. "Jadi, Raja ingin memberikan kami pesta besar?"

"Tentu saja! Tapi beliau butuh jumlah yang akurat," kata Kancil. "Beliau bilang jika kalian tidak bisa membuktikannya, maka undangannya akan diberikan ke klan ular sanca di hutan."

Buaya langsung panik. Dia tidak mau kehilangan makanan lezat itu untuk ular.

"Tunggu dulu, Semut Kecil!" teriak Buaya. "Aku akan buktikan! Aku akan panggil semua teman-temanku sekarang juga!"

Buaya lalu berenang ke tengah sungai dan mulai mengeluarkan suara panggilannya. Tidak lama kemudian, puluhan buaya besar dan menakutkan muncul dari kedalaman air. Sungai itu dipenuhi oleh punggung buaya yang bersisik.

"Dengar, semuanya!" teriak Buaya pada teman-temannya. "Raja Hutan mengundang kita ke pesta besar besok malam di seberang sungai! Tapi kita harus dihitung dulu agar makanannya cukup!"

Buaya-buaya itu sangat bersemangat. Mereka tidak pernah mendapatkan undangan dari Raja Hutan sebelumnya.

"Jadi, Semut Kecil," kata Buaya Besar kembali ke Kancil yang masih duduk di moncongnya. "Sekarang, bagaimana kau akan menghitung kami?"

"Kalian harus berbaris dari tepi sungai sini sampai ke tepi sungai sana," kata Kancil. "Berbarislah dengan rapi, agar aku bisa melompat dari punggung satu buaya ke buaya yang lain sambil menghitung. Aku akan menghitung kalian dengan cepat!"

Dengan bangga, buaya-buaya itu mulai berbaris. Mereka membuat jembatan yang sangat panjang dari satu sisi sungai ke sisi yang lain.

Kancil melompat ke punggung buaya pertama. "Satu!" teriaknya, lalu melompat ke yang berikutnya. "Dua! Tiga! Empat!"

Dia terus melompat dan menghitung. Dia melompat dari punggung ke punggung, melompati mata yang tertutup, moncong yang siap melahap, dan ekor yang kuat. Dia merasa sangat berani, meskipun dia hanya semut kecil. Akhirnya, dia mencapai punggung buaya terakhir yang berada tepat di tepi seberang.

"Tiga puluh sembilan! Empat puluh!" teriak Kancil saat dia melompat ke darat, ke padang rumput yang subur.

Dia langsung berlari menjauh dari sungai, memanjat pohon buah terdekat.

"Hei, Semut Kecil!" teriak Buaya Besar dari kejauhan. "Bagaimana jumlahnya? Berapa banyak kami semua?"

Kancil, yang sekarang sudah aman di atas pohon, berbalik dan tersenyum licik.

"Tidak ada pesta, Buaya!" teriak Kancil dengan nada mengejek. "Aku hanya ingin menyeberang sungai! Terima kasih karena sudah menjadi jembatan yang sangat baik!"

Buaya itu tertegun. Dia menyadari bahwa dia telah ditipu. Dia dan teman-temannya menjadi jembatan hanya agar seekor semut kecil bisa makan buah-buahan di seberang.

"Semut sialan!" teriak Buaya Besar dengan penuh amarah. Dia mencoba mengejar, tapi sudah terlambat. Kancil sudah jauh di darat, menikmati buah-buahan yang lezat.

Semut-semut lain yang melihat Kancil berhasil, merasa sangat kagum. Mereka tidak menyangka bahwa ide gila Kancil berhasil menipu buaya-buaya besar yang menakutkan itu. Sejak hari itu, Kancil menjadi pahlawan bagi koloni semut, dan mereka selalu mengingat cerita bagaimana kecerdikan seekor semut kecil bisa mengalahkan ketamakan seekor buaya besar.


Pesan Moral:

  1. Kecerdikan Mengalahkan Kekuatan: Kekuatan fisik tidak selalu menjadi yang terkuat. Kecerdikan dan kecerdasan dapat memecahkan masalah yang tampaknya mustahil untuk diselesaikan.

  2. Jangan Mudah Tertipu: Buaya yang tamak terlalu cepat mempercayai janji tanpa memikirkannya secara logis, yang menyebabkan dia tertipu.

  3. Pikirkan Sebelum Bertindak: Cerita ini mengajarkan kita untuk selalu waspada dan berpikir jernih sebelum bertindak, terutama ketika berurusan dengan seseorang yang menawarkan sesuatu yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.

CARI TAHU LEBIH BANYAK


HALAMAN FAVORIT UNTUK ANDA